Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius,
dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia
ataupun buatan pabrik yang jelas-jelas sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana
penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu. Kamu yang sulit kutebak tapi
begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan
yang bahkan sulit kujelaskan.
Perkenalan
kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria
paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak
menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, dua hal itu memang tak
cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku
mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan
sesaat? Begitu singkat perkenalan kita, ternyata semua melekat, termasuk
cinta? Kamu tak percaya? Tentu saja. Kamu selalu tak percaya pada perasaanku,
kamu tetap pada presepsimu sendiri. Padahal aku jujur, aku tak pernah berbohong
jika berkata rindu semu itu.
Hari-hari
kulewati dengan banyaknya pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam yang
kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu berbicara dalam percakapan
yang manis lewat pesan singkat. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam
dengan candaan kecilmu, kamu begitu manis dan mengejutkan. Kamu bilang aku ini
bidadari kecilmu. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak
merasakan cinta seperti tersetrum oleh energi magis.
Kamu
mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku
sebenarnya juga sudah mengagumimu sejak lama, sejak semester pertama tepatnya
sabtu di pengenalan SBH tapi aku tak ingin bilang.
Aku
mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di
hari-hariku. Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita.
Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat bodoh dan pintar dalam
waktu yang bersamaan —meski Cuma lewat handphone. Perhatian dan kecupan kecil
yang kamu selipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan di pesan singkat itu
membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang punya perasaan yang serius. Yah,
aku salah, harapanku terlalu tinggi. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya
persinggahan yang tak akan kamu jadikan tujuan. Entah mengapa aku tak bisa
berpikir jernih bahwa pria seberlian kamu tak mungkin menaruh hati pada tanah
liat seperti aku. Kukira aku sudah menjadi sosok yang spesial bagimu, ternyata
perkiraanku pun bisa salah.
Menyakitkan
bukan jika keberadaanku tak pernah kamu anggap meskipun aku selalu hadir dalam
tatapanmu? Aku berusaha semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya
usahaku tak begitu terlihat di matamu. Kita pernah saling berkata sayang, tapi
semua akan terasa kosong jika tak benar-benar dikatakan tanpa bertatapan mata.
Aku
memejamkan mata. Pipiku basah entah oleh apa. Jangan suruh aku mengaku bahwa
ini adalah air mata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Kamu
tersenyum. Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian yang kamu
berikan, aku masih bisa mencintaimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar