m

m

Selasa, 20 Mei 2014

Lagi pengen nulis aja :')




Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia ataupun buatan pabrik yang jelas-jelas sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. 

  Perkenalan kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Begitu singkat perkenalan kita, ternyata semua melekat, termasuk cinta? Kamu tak percaya? Tentu saja. Kamu selalu tak percaya pada perasaanku, kamu tetap pada presepsimu sendiri. Padahal aku jujur, aku tak pernah berbohong jika berkata rindu semu itu. 
Hari-hari kulewati dengan banyaknya pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam yang kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu berbicara dalam percakapan yang manis lewat pesan singkat. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu, kamu begitu manis dan mengejutkan. Kamu bilang aku ini bidadari kecilmu. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum oleh energi magis. 
Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga sudah mengagumimu sejak lama, sejak semester pertama tepatnya sabtu di pengenalan SBH tapi aku tak ingin bilang. 
Aku mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku. Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat bodoh dan pintar dalam waktu yang bersamaan —meski Cuma lewat handphone. Perhatian dan kecupan kecil yang kamu selipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan di pesan singkat itu membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang punya perasaan yang serius. Yah, aku salah, harapanku terlalu tinggi. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang tak akan kamu jadikan tujuan. Entah mengapa aku tak bisa berpikir jernih bahwa pria seberlian kamu tak mungkin menaruh hati pada tanah liat seperti aku. Kukira aku sudah menjadi sosok yang spesial bagimu, ternyata perkiraanku pun bisa salah. 
Menyakitkan bukan jika keberadaanku tak pernah kamu anggap meskipun aku selalu hadir dalam tatapanmu? Aku berusaha semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya usahaku tak begitu terlihat di matamu. Kita pernah saling berkata sayang, tapi semua akan terasa kosong jika tak benar-benar dikatakan tanpa bertatapan mata. 
Aku memejamkan mata. Pipiku basah entah oleh apa. Jangan suruh aku mengaku bahwa ini adalah air mata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Kamu tersenyum. Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian yang kamu berikan, aku masih bisa mencintaimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar